Rabu, 15 September 2010

INILAH Penangkaran Buaya Terbesar Di Dunia !!

Areal penangkaran ini seluas satu hektar lebih, oleh pemiliknya di dalam areal ini telah dibangun 78 bak penangkaran buaya dan setengah hektar tanah dibuat semacam danau tempat leluasa hidup di air dan naik ke darat yang belakang danau telah dipagari tembok panjang dengan tinggi sekitar 3 meter sebagai pembatas dengan areal perkampungan penduduk yang berada di sekitarnya. Agar terlihat oleh pengunjung danau ini diberi pagar besi jaring-jaring pengaman. Menurut pengakuan para turis yang telah datang berkunjung, ini adalah penangkaran buaya terbesar di dunia yang dikelola secara tradisionil, untuk menikmatinya biaya masuk hanya Rp 5000 bagi orang dewasa dan Rp 3000 bagi anak-anak. Populasi yang besar membuat pemilik menjadi prihatin di dalam menyediakan pakan bagi buaya-buaya ini yang membutuhkan satu ton daging segar setiap hari sementara sumber pembiayaan hanya mengandalkan harga tiket masuk dari para pengunjung termasuk biaya pawang, pemeliharaan dan perawatan. Setidaknya dibutuhkan dana 1 juta perhari untuk biaya pakan, itu pun tidak semua buaya mendapatkan mangsa pakan setiap harinya yang berasal dari ternak yang mati umumnya ayam dan bebek. Bagi penduduk Kota Medan yang memiliki ternak lembu, kerbau, babi dan kambing yang mati biasanya di bawa ke tempat penangkaran ini.
Sebagai obyek wisata yang telah diakui oleh Pemko Medan, penangkaran ini nampak sangat bersahaja, penangkaran dikelola di dalam rumah penduduk biasa, cukup sederhana sebagaimana sederhananya rumah tangga Lo Than Muk bersama isterinya Lim Hiu Cu dengan dua anaknya Robert Lo (30) dan Robin (28).
Lo Than Muk tidak menyangka sama sekali, penangkaran buayanya berkembang menjadi 2.800 ekor. Awalnya dia hanya iseng memelihara buaya kecil 12 ekor yang didapat dari sungai-sungai yang ada di Kota Medan. Dari situ kemudian buayanya terus berkembang biak dan akhirnya dia buka penangkaran 1959 dan sempat tenar sebelum tahun 1998 sebagai objek wisata andalan Kota Medan. Lo Than Muk lahir di Aceh Timur pada 11 Maret 1928 telah lama tiada meninggalkan warisan buaya berikut areal penangkarannya, kini ke dua orang anaknya melanjutkan usaha pelestarian buaya-buaya ini.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar